Puisi: Sumringah
https://jeumpanews.blogspot.com/2016/04/puisi-sumringah.html
Sumringah (1)Sumringahnya hari,
jika telah sempat menengadah.
Sumringahnya jiwa,
jika telah bangkit dan meminta-haturkan,
penuh etika.
Sumringahnya langkah,
jika telah mengantongi segenggam restu dan doa-doa.
Sumringahnya makhluk,
karena telah diperkenan bolehkan menghatur pinta,
tanpa batas dan ketentuan rupa.
Sumringah (2)
Melangkahkan mata kaki,
diiringi rasa dan genggam gelora,
menuju sebuah karya mempesona.
Tiap raga punya andilnya,
setiap jiwa memiliki haknya,
atas kesempatan dan kecerahan,
diliputi Keagungan Sang Pencipta.
Sumringah (3)
Sesak,
jika telah terjaga,
mimpi semalam tetap mengeja.
Sesak,
jika telah bersua,
mulut dan raga tak adu sapa.
Sesak,
jika telah berucap maaf,
tapi racun di jiwa tetap menggelora.
Sesak,
jika hari telah melangkah,
tapi mata hati tak berkenan tentukan arah.
Sesak,
jika masa telah mulai larut,
tapi pemaksa kerja tak lagi surut.
Sesak,
tetap terjaga,
menggelora,
jika nurani tak menerbitkan syukur.
Syukur,
pemulai gerak,
penutup lelah.
Sumringah (4)
Sayup adzan pertanda,
dibukanya pintu persembahan,
leliput olah rasa diiringi raga.
Sayup adzan pertanda,
dibukanya jendela kerinduan pada haribaan,
pertemuan suci dengan Sang.
Sayup adzan pertanda,
senantiasa hadir peringatan,
agar tak selalu lalai mengeja.
Sayup adzan,
lantunan menggema,
semoga jiwa-raga terhias anggunnya tasbih semesta.
Sumringah (5)
Seringkali, ingatan lalai pada tiap karunia.
Pernah juga menyebut,
pemberian yang mana?
Padi yang menguning penuh isi,
gerombol berkilo rambutan di pepohonan,
hijaunya sayur mayur,
sumringahnya cabai di pelataran,
rimbunnya daun jeruk penuh aroma,
bergelantungan petai siap santap,
bahkan aliran air seharian.
Ada juga yang bimbang,
berterima kasih atas apa?
Padahal;
selalu tepat waktu mentari menyapa,
hembusan angin menyejukkan,
bulu mata yang tak tiba-tiba memanjang,
atau.. lelapnya tertidur saat lelah hadir seharian.
Nikmat manalagi,
yang akan dipertanyakan?
Seisi langit-bumi,
semesta jagat raya mencatat,
seluruh debu dan pasir mengeja,
tak kan pernah mampu menuliskan kasihNya yang tanpa terukur.
Segala Puji, bagiMu.
Segala Puji, teruntukMu.
Segala Puji, hanya pantas terucap atasMu,
Tuhan kami.
Maha Pemurah, atas semesta alam.
Oleh: Anis Fuadah Zuhri
Oleh: Anis Fuadah Zuhri
Oleh: Anis Fuadah Zuhri
Sumringah (1)
Sumringahnya hari,
jika telah sempat menengadah.
Sumringahnya jiwa,
jika telah bangkit dan meminta-haturkan,
penuh etika.
Sumringahnya langkah,
jika telah mengantongi segenggam restu dan doa-doa.
Sumringahnya makhluk,
karena telah diperkenan bolehkan menghatur pinta,
tanpa batas dan ketentuan rupa.
Sumringah (2)
Melangkahkan mata kaki,
diiringi rasa dan genggam gelora,
menuju sebuah karya mempesona.
Tiap raga punya andilnya,
setiap jiwa memiliki haknya,
atas kesempatan dan kecerahan,
diliputi Keagungan Sang Pencipta.
Sumringah (3)
Sesak,
jika telah terjaga,
mimpi semalam tetap mengeja.
Sesak,
jika telah bersua,
mulut dan raga tak adu sapa.
Sesak,
jika telah berucap maaf,
tapi racun di jiwa tetap menggelora.
Sesak,
jika hari telah melangkah,
tapi mata hati tak berkenan tentukan arah.
Sesak,
jika masa telah mulai larut,
tapi pemaksa kerja tak lagi surut.
Sesak,
tetap terjaga,
menggelora,
jika nurani tak menerbitkan syukur.
Syukur,
pemulai gerak,
penutup lelah.
Sumringah (4)
Sayup adzan pertanda,
dibukanya pintu persembahan,
leliput olah rasa diiringi raga.
Sayup adzan pertanda,
dibukanya jendela kerinduan pada haribaan,
pertemuan suci dengan Sang.
Sayup adzan pertanda,
senantiasa hadir peringatan,
agar tak selalu lalai mengeja.
Sayup adzan,
lantunan menggema,
semoga jiwa-raga terhias anggunnya tasbih semesta.
Sumringah (5)
Seringkali, ingatan lalai pada tiap karunia.
Pernah juga menyebut,
pemberian yang mana?
Padi yang menguning penuh isi,
gerombol berkilo rambutan di pepohonan,
hijaunya sayur mayur,
sumringahnya cabai di pelataran,
rimbunnya daun jeruk penuh aroma,
bergelantungan petai siap santap,
bahkan aliran air seharian.
Ada juga yang bimbang,
berterima kasih atas apa?
Padahal;
selalu tepat waktu mentari menyapa,
hembusan angin menyejukkan,
bulu mata yang tak tiba-tiba memanjang,
atau.. lelapnya tertidur saat lelah hadir seharian.
Nikmat manalagi,
yang akan dipertanyakan?
Seisi langit-bumi,
semesta jagat raya mencatat,
seluruh debu dan pasir mengeja,
tak kan pernah mampu menuliskan kasihNya yang tanpa terukur.
Segala Puji, bagiMu.
Segala Puji, teruntukMu.
Segala Puji, hanya pantas terucap atasMu,
Tuhan kami.
Maha Pemurah, atas semesta alam.
- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/budaya/puisi-sumringah#sthash.udV9Bngu.dpuf
Sumringahnya hari,
jika telah sempat menengadah.
Sumringahnya jiwa,
jika telah bangkit dan meminta-haturkan,
penuh etika.
Sumringahnya langkah,
jika telah mengantongi segenggam restu dan doa-doa.
Sumringahnya makhluk,
karena telah diperkenan bolehkan menghatur pinta,
tanpa batas dan ketentuan rupa.
Sumringah (2)
Melangkahkan mata kaki,
diiringi rasa dan genggam gelora,
menuju sebuah karya mempesona.
Tiap raga punya andilnya,
setiap jiwa memiliki haknya,
atas kesempatan dan kecerahan,
diliputi Keagungan Sang Pencipta.
Sumringah (3)
Sesak,
jika telah terjaga,
mimpi semalam tetap mengeja.
Sesak,
jika telah bersua,
mulut dan raga tak adu sapa.
Sesak,
jika telah berucap maaf,
tapi racun di jiwa tetap menggelora.
Sesak,
jika hari telah melangkah,
tapi mata hati tak berkenan tentukan arah.
Sesak,
jika masa telah mulai larut,
tapi pemaksa kerja tak lagi surut.
Sesak,
tetap terjaga,
menggelora,
jika nurani tak menerbitkan syukur.
Syukur,
pemulai gerak,
penutup lelah.
Sumringah (4)
Sayup adzan pertanda,
dibukanya pintu persembahan,
leliput olah rasa diiringi raga.
Sayup adzan pertanda,
dibukanya jendela kerinduan pada haribaan,
pertemuan suci dengan Sang.
Sayup adzan pertanda,
senantiasa hadir peringatan,
agar tak selalu lalai mengeja.
Sayup adzan,
lantunan menggema,
semoga jiwa-raga terhias anggunnya tasbih semesta.
Sumringah (5)
Seringkali, ingatan lalai pada tiap karunia.
Pernah juga menyebut,
pemberian yang mana?
Padi yang menguning penuh isi,
gerombol berkilo rambutan di pepohonan,
hijaunya sayur mayur,
sumringahnya cabai di pelataran,
rimbunnya daun jeruk penuh aroma,
bergelantungan petai siap santap,
bahkan aliran air seharian.
Ada juga yang bimbang,
berterima kasih atas apa?
Padahal;
selalu tepat waktu mentari menyapa,
hembusan angin menyejukkan,
bulu mata yang tak tiba-tiba memanjang,
atau.. lelapnya tertidur saat lelah hadir seharian.
Nikmat manalagi,
yang akan dipertanyakan?
Seisi langit-bumi,
semesta jagat raya mencatat,
seluruh debu dan pasir mengeja,
tak kan pernah mampu menuliskan kasihNya yang tanpa terukur.
Segala Puji, bagiMu.
Segala Puji, teruntukMu.
Segala Puji, hanya pantas terucap atasMu,
Tuhan kami.
Maha Pemurah, atas semesta alam.
- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/budaya/puisi-sumringah#sthash.udV9Bngu.dpuf